Insantama Banjar

logo_ppdb2023SIT INSANTAMA
Daftar Sekarang
IMG_9144
08
Aug
’24

Serunya Belajar Memasak, Salurkan Hobi dan Latih Motorik

Ditulis oleh itbanjar

Tidak perlu melarang anak-anak bermain dengan peralatan dapur. Di SDIT Insantama Banjar, siswa kelas 1 sudah diajari memasak. Layaknya orang dewasa, mereka juga menggunakan kompor. Namun, tentu saja tetap diawasi pembina.

Aroma nikmat masakan tercium dari salah satu ruangan di sudut sekolah. Dari baunya, bisa diketahui bahwa itu berasal dari bahan makanan yang direbus. Siang itu sedang ada kegiatan ekspresi cooking class di ruang kelas 1B.

Di samping mangkok besar, ada chef cilik yang siap mengeksekusi bahan-bahan makanan yang akan siap diolah. Tangan kecilnya lihai membolak-balik makanan dengan spatula. Hawa panas sama sekali tak membuatnya takut. Dengan santai, dia mengolah potongan-potongan jagung ke dalam mangkok besar itu. ’’Ana memang suka masak,’’ ujar Aurora Kania Alisha.

Hari itu Ananda kebagian jatah untuk menyerut keju dan memasukan Jagung ke gelas-gelas kecil. Mereka mempraktikkan apa yang diajarkan oleh ibu Trina Melianingsih selaku PJ Cooking. Selain itu, mereka begitu antusias untuk mengolah bahan makanan lainnya.

Ananda ikhwan kelas 1 berkumpul berbaris untuk merasakan bagaimana membuat Jasuke dengan tangan mungil mereka . Sementara temannya yang lain menyiapkan toping-nya. Ada yang menuangkan cokelat, memotong jagung, menyiapkan tempatnya, dan menyerut keju. Mereka tampak berfokus pada tugas masing-masing. Sesekali juga disertai canda tawa.

Meski masih sangat belia, ananda sudah bisa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Canda tawa yang dilontarkan selama kegiatan berlangsung juga terkontrol. Mereka sudah tahu cara menjaga diri sendiri dan orang lain dari bahaya yang mungkin timbul dalam proses memasak.

Bagi ananda kelas 1 ini merupakan hal yang baru. Setiap Jum’at mereka akan mengikuti ekspresi yang memang ini menjadi salah satu ekspresi wajib untuk diikuti oleh ananda.

Lewat ekspresi Cooking ini, Aurora mendapat banyak manfaat. Dia bercerita, dirinya sering membantu ibu membuat kue di rumah. Dia bahkan sudah terampil menggunakan alat-alat masak sendiri meski sederhana. ’’Baru bisa kocok telur pakai mixer,’’ ungkap bocah yang berusia 6 tahun 8 bulan tersebut.

Sekitar sejam, proses memasak pun rampung. Anak-anak lantas mengerjakan tahap selanjutnya. Yakni, menghias makanan di gelas masing-masing. Mereka bebas berkreasi sesuai dengan petunjuk dan arahan dari ibu Trina. Ada karbohidrat, protein, dan vitamin dalam satu porsi.

Ustadah Safitri yang sejak awal mengawasi kegiatan para siswa ikut membantu kegiatan ekspresi cooking tersebut dengan menyiapkan tempat-tempat yang akan diisi. ’’Hayo, dibagi dengan temannya, ya,’’ ujarnya mengingatkan agar siswa tidak saling berebut.

Sementara itu, para siswa lain yang tidak tergabung dalam ekskul cooking class semakin ramai berdatangan ke kelas itu. Mereka tertarik pada bau harum masakan dan tergoda untuk mencicipi. ’’Kalau mulai matang, teman-teman yang lain pasti berdatangan,’’ ujar Ustadzah Heti, sapaan akrab Ibu Heti Nurhayati. Anggota ekspresi cooking class juga tak berkeberatan berbagi dengan teman-teman yang lain.

Ekskul cooking class dibentuk bukan tanpa alasan. Menurut ibu Trina, kegiatan itu merupakan salah satu sarana untuk mengasah motorik siswa. Caranya, mengajari mereka memotong, mengupas, mengiris, hingga mengaduk.

 

Setiap pekan pesertanya beragam. Kadang diajarkan di kelas kecil, kadang juga di kelas besar. Bergantung jadwal yang telah ditentukan saat itu. ’’Pekan ini kami fokuskan untuk kelas kecil, yakni kelas 1A dan 1B SDIT saja,’’ terangnya.

Pembelajarannya pun beragam. Pada awal tahun pelajaran baru, mereka dikenalkan pada bahan-bahan masakan dan kue. Kemudian, mereka diajari cara memotong dan mengupas. Lalu berikutnya baru masuk ke pelajaran memasak yang sesungguhnya.

Selama ini, peralatan praktik yang utama sudah disiapkan sekolah. Misalnya, kompor, wajan, dan panci. Begitu pula bahan-bahan masakan. Siswa hanya tinggal mengeksekusi bahan makasan untuk dijadikan kudapan nikmat.

Ada satu aturan yang tak boleh dilanggar dalam praktik cooking class. Yakni, dilarang menggunakan MSG dan bahan penyedap atau pengawet masakan instan lainnya. Sebab, dalam kegiatan itu, anak-anak diajari cara memasak dengan menu sehat. Diharapkan, mereka terbiasa tidak menggunakan MSG dan bisa menjaga kesehatan sendiri.

Hingga saat ini, peminat ekspresi cooking setiap tahunnya memang cukup banyak. Terlihat dari antusias siswa-siswi insantama banjar. Semoga dengan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa menjadi penyalur hobi dan melatih motorik ananda semua.

Populer